Gmane
Favicon
From: Kusni jean <katingan@...>
Subject: novel "saman" edisi perancis diluncurkan di koperasi restoran indonesia paris
Newsgroups: gmane.culture.region.indonesia.ppi-india
Date: 2007-12-07 15:00:52 GMT (1 year, 30 weeks, 1 day, 1 hour and 9 minutes ago)

Surat Dari Montmartre:

NOVEL "SAMAN" EDISI PERANCIS, DILUNCURKAN 
DI KOPERASI RESTORAN  INDONESIA PARIS

Di tengah-tengah  diskusi antar meja dan dengan Ayu Utami, begitu melihat peluang,   kepada Sebastian
Fomaruli dari Penerbit Flammarion, saya tanyakan, bagaimana mereka mengenal karya Ayu Utami dan
kemudian berkeputusan menerbitkan novel "Saman" karya Ayu Utami? Secara tertulis kemudian saya
tanyakan,  mengapa mereka tertarik pada karya sastra Indonesia dan bagaiamana rencana mereka
selanjutnya dalam menerbitkan karya-karya sastra Indonesia?

Menjawab pertanyaan ini, Sebastian mengatakan bahwa Penerbit Flammarion, mengenal Ayu Utami dan
"Saman" melalui seorang wartawan Perancis -- tanpa mengatakan secara persis siapa wartawan itu -- yang
membuat laporan tentang Indonesia.  Bagaimana wartawan ini menaruh perhatian pada sastra kekinian
Indonesia, Sebastian pun tidak memberikan penjelasan lebih jauh. Hanya saja seingat saya, ketika
Lembaga Persahabatan Perancis-Indonesia, pada November 2004 menyelenggarakan "Hari Sastra
Indonesia" di Paris, pertemuan yang didukung oleh lembaga-lembaga resmi dan swasta melalui lobbi kuat
Johanna Lederer,  hadir beberapa penerbit besar Perancis, antara lain Gallimard dan juga jika ingatan
saya benar, wakil dari Flammarion. Hasil  "Hari Sastra Indonesia November 2004" dikonsolodasi dengan
seminar sastra tentang André Malraux dan Edward du Perron dalam hubungannya dengan Indonesia,  di
Universitas Sorbonne, dan Temu Sastra di Senat 2006, di mana Ayu Utami bersama Seno Gumira hadir, agaknya
sedikit-banyak bisa menarik perhatian para penerbit utama Perancis.  Masalah menarik  yang diangkat
dalam "Hari Sastra Indonesia Paris November 2004" adalah para pakar sastra dan Indonesianis Perancis
serta Belanda menunjukkan hubungan di dunia sastra antara Perancis-Belanda-Indonesia berlangsung
jauh semenjak zaman filosof Diderot. Keterangan para ahli tentang sastra Indonesia yang demikian,
barangkali membuat para wakil penerbit yang hadir makin melirik ke Indonesia, apalagi pada waktu itu
Gallimard menerbitkan  novel "Gadis Pantai" karya Pramoedya A. Toer.  Kegiatan yang bersifat
pemerkenalan dan  lobbi serta membuka pintu perhatian pasar bagi sastra, kiranya dalam konteks hubungan
Indonesia-Perancis diperlukan mengingat hubungan sejarah antar kedua negeri  Perancis-Indonesia
berbeda dengan negeri-negeri Indochina.  Diterbitkannya novel "Saman" karya Utami edisi bahasa
Perancis tahun ini, saya lihat sebagai konsolidasi lebih lanjut, sekaligus buah dari usaha-usaha
bidasan di atas, yang membuka peluang lebih besar lagi bagi sastra Indonesia di Perancis. Para
Indonesianis Perancis dalam beberapa kali pertemuan "Pasar Malam" sering mengatakan bahwa tenaga dan
kemampuan Perancis menterjemahkan karya-karya sastra Indonesia sungguh tidak kurang. Masalahnya
kemudian, yang mungkin perlu dipertimbangkan oleh para sastrawan Indonesia, adalah kelayakan
karya-karya mereka diterjemahkan. Penterjemahan karya-karya sastra Indonesia ke dalam bahasa
Perancis, jika berbicara tentang Perancis sebagai negeri sastra-seni, saya kira akan erat tautannya
dengan kemampuan saing karya-karya itu dengan karya-karya sastra Perancis. Ayu Utami dengan novel
"Saman"nya berhasil masuk gelanggang. Saya kira barangkali terbitnya novel "Saman" edisi bahasa
Perancis ini merupakah hasil penting bukan hanya bagi Ayu Utami tapi juga bagi sastra kekinian Indonesia
angkatan Ayu Utami. Sebelumnya, yang mendominasi dan menarik perhatian para penerbit Perancis,
terutama karya-karya Pramoedya A. Toer berbarengan dengan kampanye tentang Pram di dunia
internasional oleh orang-orang Indonesia di luar negeri.  Laporan para wartawan Perancis tentang Pram
pun sangat sering disiarkan di harian-harian nasional Perancis. Pram pun tidak asing bagi kalangan
elite penyelenggara negara Perancis dan kemudian ia mendapat bintang jasa "Légion d'Honneur" dari
pemerintah Perancis.

Penerbitan "Saman" edisi bahasa Perancis oleh Flammarion, barangkali bisa juga dipahami sebagai makin
terbukanya negeri sastra-seni ini bagi karya-karya sastra Indonesia. Kecuali itu, terbitnya "Saman"
edisi Perancis, merupakan tantangan menagih jawab kepada para sastrawan kita.   Ketika memperoleh
kesempatan berbicara pada peluncuran "Saman", saya memberanikan diri mengusulkan agar para penerbit
utama Perancis menaruh perhatian pada karya-karya penulis lain seperti misalnya Lan Fang, yang
karya-karyanya selain berbicara tentang soal femininisme, juga beranjak dari warna lokal serta
keragaman. Masalah yang menjadi salah satu soal utama Perancis sampai dimasukkannya Alexandre Dumas ke
makam putera-puteri terbaik "Pantheon".  Lan Fang, sekali pun berbicara tentang masalah etnik dan
lokal, tapi seperti yang dinyatakannya dalam makalahnya di Kongres Nasional Cerpen, Banjarmasin
Oktober 2007 baru-baru ini,  dan juga delapan novelnya, ia keluar dari kesempitan etnisitas dan
lokalitas.  Dengan mengatakan ini, yang ingin saya katakan bahwa dunia sastra Indonesia kekinian
menyimpan sekian banyak potensi. Ayu Utami, suka atau tidak suka, dengan segala kritik kepadanya,  
hanyalah salah salah ikon pentingnya yang mulai dikenal dunia internasional. 

Sekali pun Sebastian Fomaruli tidak menjawab pertanyaan saya secara jelas, tapi berbarengan dengan
kerja lobbi, pemerkenalan, laporan, didukugn oleh mutu karya bertaraf dunia, Perancis  tidaklah lagi
negeri asing dengan pintu tertutup bagi sastra kekinian Indonesia. Ayu Utami adalah salah satu
buktinya. Acara di Intitute Néerlandais Paris pada tanggal 14 Desember 2007 tentang "Sastra
Indonesia" yang didukung oleh para pakar sastra serta Indonesianis Belanda dan Perancis, merupakan
langkah lanjut lagi dari kegiatan lobbi membuka pintu dan pemerkenalan sastra Indonesia.

Kentongan sastra Indonesia di Eropa Barat telah dibunyikan, sedang dan terus ditabuhi. Para penerbit
sekali pun dan justru dengan orientasi komersialnya, tidak pekak serta menajamkan telinga. Apakah para
sastrawan kita mempunyai telinga mendengar suara tuntutan kentongan sastra berkadar dunia?

Paris, Desember 2007.
-----------------------------
JJ. Kusni, pekerja di Koperasi Restoran Indonesia, Paris.

[Berlanjut....]

Keterangan Foto:
Ayu Utami dalam Temu Sastra yang diselenggarakan oleh Lembaga Persahabatan Perancis-Indonesia  "Pasar
Malam" di Gedung Senat Perancis, Paris, tahun 2006. Seperti biasa dalam kegiatan ini Koperasi Restoran
Indonesia Paris yang terletak hanya beberapa ratus meter dari Gedung Senat, turut memberikan yuran
sesuai kemampuannya. [Dok. dan foto  JJK].

[Non-text portions of this message have been removed]

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality &
Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@...
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@...
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@...